Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2024

Koneksi

Terdengar sepele Mengingat masa-masa indah Seketika teringat Ketika kita merusak hari-hari itu Tanpa kesadaran Yang dampaknya terasa saat ini Sehangat musim panas dengan yang lain Tetapi sedingin musim salju denganku Apakah kau membenciku? Kalaupun benar Aku tidak bisa membencimu Begitu juga menerimamu sepenuhnya Diri ini masih membutuhkanmu Namun batin ini mengatakan bahwa dirimu tidak diperlukan Koneksi yang rumit

Museum

Tempat dimana berbagai karya ditampakkan Pergelaran yang nyatanya bukan Antara membukanya untuk publik Atau selektif menerima pengunjung Memiliki makna tersendiri Di setiap goresan kuas Tidak serupa dengan yang lain Merupakan jiwa yang langka Jika simpulannya benar dan tepat Lainnya hanya akan diam, membenci bahkan merusak Satu dua pengunjung mungkin akan menarik perhatian Ternyata ia hanya ilusi belaka

Bom Waktu

Mereka semua sejatinya bom waktu Memendam semua seiring waktu Meluap diantara sela waktu Melunak dengan berjalannya waktu Menjinak jika diberi waktu Mengejutkan bahkan untuk waktu Meledak pun tak mengenal waktu

Sekedar Hari

Hari itu tidak dingin mencekam Hari itu tidak panas terbakar Hari itu tidak sedih berantakan Hari itu tidak senang teringat Hanya sekedar hari tak berbekas

Pagi Akhir Pekan

Siapa yang pernah menyangka Hanya sekedar pagi akhir pekan Terbangun melanjutkan keharusan Peledak itu terpancing suasana Meledak dengan berita buruknya

Selagi Bisa Dinikmati

Selagi masih bisa dirasakan Asinnya garam Manisnya gula Nikmati sebelum semua itu tak lagi sedia Meski penat lidah ini merasa

Memilih Sembarang

Sebuah paras muka seorang romeo Sederhana teduhnya memikat hati juliet Apalah yang bergelut dengan romeo Sehingga memilih sembarang juliet

Bermalam Tak Sejenak

Ia pernah mampir bermalam  Hanya sejenak dingin bulan 49 jam kemudian bulan masih singgah Seakan telah melupakan hangat hari siang 

Pernah Menolak

Pernah di tahap menghindar Memberi jarak tak masuk akal Entah atas karena yang mana Menolak sapaanmu begitu kejam

Tak Sepadan

Kita pernah membangun istana pasir Berdiri megah di bibir pantai Dibuat perlahan nan lihai Sampai terlihat detail teterkecil Namun kita begitu lalai Tak membangun perisai sebagai proteksi Melupakan ombak tak terkendali Yang menghancurkannya dalam sedetik Terlalu elok untuk musnah sekejap mata Kau tak berkutik atau mencoba mencegah Di sisi lain kulindungi sekuat tenaga Setiap bulir pasir yang tersisa Dengan tatapan menyangkal Kusadari sesuatu hal menyakitkan Semua tenaga ini sungguh tak sepadan Untukmu yang terlalu sibuk menyerah Perlahan angin ikut hempas bersamamu Ombak mulai menghapus jejakmu Bumi menelan habis keberadaanmu Api tak segan ikut melahap dirimu Bangga diriku melakukan semua hal itu Sebab aku masih ingin membangun istana Dengan usaha yang sepadan Sehingga tak lagi hancur karena satu pihak Selamat tinggal hal tak sepadan

Kala Mata Memandang Biru

Kala ombak bertemu semesta Kala sejauh ingin memandang Kala sehalus pasir dirasa Kala seliar ingin membayangkan Kala ritme itu menenangkan Kala semua hilang seketika

Jutaan Riuh

Di kejauhan lautan biru Sedkit dibuat meringis aku Acuh tak acuh itu pilu Bagi sedikitnya jutaan riuh

Semua Cahaya Belum Tentu Cahaya

Cahaya terik Yang muncul di ujung hari Tak membawa diri sendiri Namun petir ikut membersamai

Peran Sederhana

Apa apa yang sederhana Terkadang selalu dipandang sebelah mata Tak banyak mereka sadar Bahwa hal kecil itu masih memegang peran

6 Tahun Kemudian

Kehilangan menemui semua insan Melalui cara yang tak pernah sama Ia dapat menunggu di tengah keramaian Atau mengejar di lorong penuh kesepian Bagiku kami bertemu lewat benturan keras Benturan itu memberi memar di sekujur raga Sebuah bekas yang terdengar ringan Tak mungkin berefek signifikan Menuju 6 tahun kemudian Memar itu pun tak kunjung hilang  Seakan terjadi baru saja Rasa sakit itu masih segar Hingga mata ini lelah mengeluarkan keringatnya