Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2024

Pernah Berlayar

Kapal harapan ku pernah berlayar Diantara gemuruh petir ombak Tetap seksama mengamati tujuan Pulaumu lah destinasi awak Kini hanya tertinggal karam Menemani kerang di dasar lautan Tinggal menunggu keajaiban tiba Yang mungkin tak akan pernah berpihak

Tidak Pernah Ada

Bagaimana jika aku tidak pernah ada Apakah semua akan lebih tentram Perempuan itu akhirnya merasakan bahagia Laki laki disana tak lagi harus memikul beban Kalian akan terhindar dari perihnya luka Mereka pun bisa tenang untuk tertawa lepas

Siapalah Aku Tanpanya

Mematikan itu pasti Akan tetapi tak selamanya akan perih Mintalah apa apa yang baik Akan dia berikan bahkan darah daging Ilmu yang kudapat ini tersirat Satu demi satu didapat Melalui cara unik hanya darinya Ya, sangat tak bisa ditebak Hai engkau penikmat dunia Era ini tak abadi di sisi kita Rantaimu akan kembali mengarah pusat Orang yang menanammu sejak tunas

Radar Yang Tenggelam

Suara yang terdengar lantang Alunan tegas pun terpancar Layaknya radar membawa kabar Menjinjing amanat tiada tara Tidaklah merdu tersebar Amanat bagai mutiara itu tenggelam  Dalam sunyi ia pun sirna Berakibat fatal tak terkira

Tanpa Alasan Pasti

Jiwa ini terkesan  Setelah satu dua cerita tersampaikan Wajah insan itu memberi petunjuk samar Namun dapat diketahui dengan mudah Saat ini muncul warna kemerahan menjalar Entah karena alasan apa Namun saat ini tatapan kami terkunci rapat Ya, masih dengan wajahnya yang memerah

Lapangan Harap

Kesadaran balita di sampingku tak berada di tempat Kini sebuah balon perlahan meninggalkan genggaman mungilnya Entah mengapa Panik bukan lagi insting pertama Ketika balon itu menari diantara alunan udara Melintasi lautan awan Sesaat aku mengira akan mendengar tangisan pecah  Detik demi detik tak kunjung datang Ternyata hanya tatapan kecewa tergambar Menyatu dengan sedikit rela Luar biasa kuat Semoga lapangan harap itu tetap ada Terpancar cerah bagai kilau emas

Hebat Namun Vital

Dimiliki oleh khalayak umum Namun tidak semua bekerja secara utuh Yang mengidentifikasi untuk hidup Pedih pahit menjadi pupuk Beberapa hama akan mengganggu Tapi bisa bangkit lagi tanpa rasa takut Itupun hanya jika kau setuju Kita pemegang kontrol penuh Apa kabar dengan milikmu?  Sedang terjatuh?  Istirahat di tempat teduh?  Atau melewati jalan berbatu?  Tak perlu gugup  Semua memiliki waktu untuk tumbuh

Konsestan Setia

Rasa hormat tercipta untuk kalian  Para konsestan setia Mungkin tidaklah kekal  Bertahan hingga uban terlihat Namun semua tertancap Menambah reputasimu yang indah Walau hanya dalam benak

Bait Panjang Untukmu

Singkatnya, hidupku tak akan lagi sama tanpa hadirnya dirimu.  Kau berhasil menjadi salah satu alasanku bertahan hingga sejauh ini.  Diantara puluhan yang ada, kau memenangkan hatiku.  Membuatku selalu mengharapkan dirimu.  Rutinitas yang kita miliki adalah alasanku jatuh hati.  Namun seperti cerita pada umumnya.  Perpisahan menjadi pemisah antara kita.  Pergi yang sungguh terlalu cepat adanya.  Ingin kutanyakan mengapa.  Namun jawaban karena itu telah jelas telihat.  Meski untuk sesaat. Izinkan aku memberimu sejuta pertanyaan.  Setidaknya itu adalah waktu tambahan bagi kita.  Sayangnya, kini tak ada lagi alasan tersisa.  Yang akan menahanmu tuk pergi.  Juga untuk ku bertahan.  Tolong doakan aku disana.  Agar aku bisa merelakan semua. 

Rasa

Andai rasa itu tak bernyawa Aku tidak akan menyusuri gelap Namun terima kasih pun tetap terlontar Sebab ia membawaku mengenal indah

Sekedar Langkah

Kaki kecil itu menapak tanah Hanya sepasang kaki seperti yang lainnya Namun kali ini ia melangkah sungguh pelan Hingga dunia mempertanyakan "Apa itu bisa disebut sebuah langkah?"

Diharapkan

Nyaman dalam pelukanmu yang menenangkan Angin menerpa menambah rasa cita Insanmu sangat kuharapkan semenjak kau pergi Lentera malam menemani kita Andai momen ini bisa datang lebih cepat