Lapangan Harap

Kesadaran balita di sampingku tak berada di tempat
Kini sebuah balon perlahan meninggalkan genggaman mungilnya
Entah mengapa
Panik bukan lagi insting pertama
Ketika balon itu menari diantara alunan udara
Melintasi lautan awan
Sesaat aku mengira akan mendengar tangisan pecah 
Detik demi detik tak kunjung datang
Ternyata hanya tatapan kecewa tergambar
Menyatu dengan sedikit rela
Luar biasa kuat
Semoga lapangan harap itu tetap ada
Terpancar cerah bagai kilau emas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belum Sanggup